Cerpen: Wanita dan Bantal

Aku tinggal sendirian di rumah yang cukup besar. Bukannya sombong, tapi ini adalah informasi penting untuk memberikan gambaran mengenai kegusaran yang aku rasakan. Aku berharap tidak bertemu Dimas hari ini, karena bayangan-bayangan hal mendebarkan terlintas segera setelah dia memberikan pendapatnya mengenai kondisiku saat ini. Namun, semua itu terlambat. “OTW”, tulisku melalui aplikasi Line. Segera setelah kukirimkan pesan itu, kupakai helm dan kubuka pintu depan rumah, bersiap untuk mengeluarkan motor dari ruang tamu.

Aku terdiam beberapa detik: Aku melihat sebuah kaki! Kaki orang yang sedang tidur dalam posisi miring. Manusia cenderung untuk memberikan penjelasan-penjelasan dari situasi yang sedang dialami, karena konteks dan kendali mengenai apa yang sedang terjadi membuat seseorang merasa lebih tenang dan nyaman. Untuk itulah, dalam kondisi seperti ini benakku segera mengerucutkan keadaan menjadi dua kemungkinan besar. Pertama, adalah kasus yang paling baik, yaitu ada seseorang sedang tidur di depan pintu. Kasus kedua adalah kasus terburuk, yaitu ada sebuah mayat yang tergeletak di hadapanku.

Apapun kondisi yang memenuhi kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi, tetap saja seorang asing yang tidur tanpa izin di depan pintu rumah orang lain adalah kejadian tidak wajar. Mataku menjalari tubuh yang tertidur itu, hingga akhirnya kulihat wajahnya. Wajah seorang wanita yang tidak terlalu tua, dan sepertinya sudah lama juga orang mengatakan bahwa dia masih muda. Mungkin berusia empat puluhan, atau mungkin agak lebih muda dari itu. Matanya terbuka! Apa artinya ini? Apakah dia benar-benar sudah tewas?

Lamat-lamat aku perhatikan matanya dari tempatku berdiri. Matanya terbuka! Jangan-jangan benar dia sudah tewas. Apa yang harus biasanya orang lakukan ketika melihat mayat di depan rumahnya? Tidak, ini tidak biasa, jadi tidak ada jawaban yang mudah dari kondisi ini. Sejurus kemudian, matanya bergerak, dia belum mati! Dari titik ini, kesimpulan yang bisa diambil yaitu: dia adalah seorang wanita yang tiduran di depan rumah dan belum mati. Syukurlah. Tapi ini belum saatnya aku merasa lega.

Perlahan, aku berjalan mendekati kepalanya berada. Dengan menundukkan tubuh, aku bertanya, “Teh, kenapa?” (Teh: panggilan yang digunakan di daerah sunda kepada seorang wanita yang berusia masih muda). Dia tidak menjawab sedikitpun. Sedikitpun! Seakan-akan aku tidak ada. Setelah dipikir-pikir, pertanyaanku sangat luas. Akupun bingung apa makna pertanyaanku sendiri. Apakah yang aku maksud dengan “kenapa” itu adalah “kenapa bisa di sini?”, “kenapa bisa sampai ada di keadaan seperti ini?”, atau mungkin yang paling mendekati pada apa yang kumaksud adalah “kenapa kamu melakukan ini kepadaku?”

Kutunggu beberapa detik untuk mendengarkan jawabannya, dan suara dari mulutnya tak kunjung keluar. Jangankan menjawab, menatapku pun tidak. Sejak aku keluar dari pintu rumah, dia tidak kaget sama sekali dengan adanya kehadiranku, seakan-akan skenario ini sudah dia jalani berkali-kali, sehingga tidak ada hal yang baru baginya: dia tidur di depan rumah seseorang, sang pemilik keluar rumah, kemudian mengusirnya. Aku mencoba membaca hal itu dari sinar matanya, yang seakan-akan memberi pesan bahwa: Aku tahu kamu beserta semua pemilik rumah lain akan mengusirku, tapi aku akan bergeming di sini! Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi, aku lelah! Terserah kamu mau melakukan apa, seret aku keluar dari rumah ini, tapi aku akan tetap diam, aku ingin istirahat.

Mendengar hal itu diutarakan matanya, aku masuk ke dalam rumah untuk mengeluarkan motor. Aku yang sudah memakai helm akan keluar rumah juga tidak mengubah agenda hanya karena ada orang yang tidur di depan rumah. Tapi, sebelum keluar, aku memang diam beberapa saat untuk berpikir: apa yang harus aku lakukan sekarang? Di satu sisi, aku tidak keberatan untuk membiarkan wanita itu tidur di depan rumah. Ya, mungkin bukan tidak keberatan untuk seterusnya. Kalau sehari saja mungkin tidak masalah, pikirku. Tapi beberapa pemikiran mulai muncul.

Pertama, jika aku membiarkannya tidur di depan rumah, maka tentu saja para tetangga akan merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, yang mungkin menimbulkan kecurigaan yang beraneka macam. Kedua, jika aku mengusirnya, maka ada beberapa kemungkinan juga, yaitu mungkin dia akan marah kepadaku dan mencoba membalasku dengan lebih gila di kemudian hari, misalnya dengan sering-sering tidur di depan rumahku sebagai upaya balas dendamnya. Namun, yang paling jelas adalah bahwa usahaku untuk mengusirnya kemungkinan besar akan sia-sia.

Ketiga, jika aku tidak mengusirnya, maka, amit-amit, kemungkinan dia akan berusaha mencuri barang di dalam rumahku. Kemudian di tengah kebingungan ini, aku mengirim pesan lagi melalui Line kepada Dimas, “Edan, serem euy mau ninggalin imah. Aya jelma sare di hareup panto (Menyeramkan sekali untuk meninggalkan rumah. Ada orang tidur di depan pintu.)”. Kemudian temanku membalas, “tajong weh (tendang saja)” ujarnya bercanda. Kemudian aku membalas lagi ,“Edan, si eta teu ngajawab. Edan, ban aing bocor. Araneh siah kejadian pada diri aing teh. (Edan, dia tidak menjawab. Edan, banku bocor. Aneh sekali kejadian yang menimpa diriku ini.)”. Kemudian dia membalas, “Maneh failed sebagai jelema (Kamu gagal sebagai manusia)”.

Akhirnya, keputusan terakhirku adalah: sambil mengeluarkan motor dari dalam rumah, aku memberikan sebuah bantal kepadanya. Jika sebuah kalimat tidak bisa menyampaikan pesanku kepadanya, aku harap sebuah bantal menyampaikan sebuah pesan bahwa “Aku mempersilakan dia beristirahat dengan nyaman di depan rumahku, tapi hanya itu yang bisa aku berikan. Sebagai gantinya, dengan bantal ini, semoga kamu tidak mengharapkan untuk mengambil selebihnya dari apa yang ada padaku. Terima kasih, aku berangkat dulu ya, mau menambal ban. Bocor soalnya.”

Sengaja aku mencari tukang tambal ban dekat rumah Ibu, agar aku bisa cerita kejadian aneh ini kepada keluarga yang ada di sana. Ketika aku bercerita, keponakan-keponakanku yang mendengarkan tentu saja antusias, ingin mendengarkan mengenai detil kejadiannya. Ketika selesai menjelaskan kejadiannya, ada satu pertanyaan dari Ibu yang membuatku berpikir ulang apa yang sebenarnya terjadi, “Waktu kamu kedip, itu yang tidur masih ada?”. Aku berpikir apa maksud pertanyaannya sambil saling pandang dengan kakakku, ketika kami menyadari bahwa maksud pertanyaannya adalah mengenai makhluk halus, kemudian kami tertawa, “Hahaha, ya ada lah!”. Namun, setelah itu aku mulai mengingat kembali kejadiannya dan memang tidak ada orang yang lewat di depan rumah saat itu yang bisa mengonfirmasi bahwa bukan hanya aku yang melihatnya sendiri. Aku menyesal tidak mengambil bukti berupa foto orang, atau apapun itu yang ada di depan rumahku sebelum pergi.

Ban selesai ditambal, dan aku melaju menuju tempat aku dan Dimas bertemu. Sayangnya, Dimas saat itu baru saja membaca novel tentang serial detektif dan serial televisi Mr. Robot. Segera setelah dia bertemu, dia memberikan pandangannya mengenai kemungkinan-kemungkinan keadaan yang sedang kualami. Intinya, ada dua teori mengenai kondisi ini. Pertama, karena tidak ada satupun saksi yang bisa membuktikan eksistensi wanita ini, dia menduga semua yang aku lihat hanya ada di pikiranku saja. Dia menyarankan agar aku ke psikiater. Teorinya mirip teori Ibuku, bahwa eksistensi wanita ini sebenarnya tidak ada. Bedanya, Dimas melihatnya dari tinjauan psikologis, sedangkan Ibuku dari sisi metafisik.

Ketika menjelaskan mengenai teorinya yang kedua, Dimas bertanya, “Sudah ada polisi yang menelepon?”

“Hah, emang kenapa?”

“Waktu maneh ninggalin rumah, dia masih hidup kan? Maneh yakin waktu pulang masih?”

Aku terdiam, bukannya menganggapnya serius, tapi jika eksistensi wanita itu benar-benar manusia, hal yang dikemukakan Dimas itu mungkin terjadi kan? Kemudian aku mengatakan candaan yang tidak membuat keadaan lebih baik, malahan membuatku semakin khawatir.

“Tau gak yang lebih buruk dari kondisi sekarang apa?”, tanyaku pada Dimas.

“Apa?”

“Waktu aing pulang, dia udah ga ada di depan rumah. Pas aing masuk rumah, dia udah ada di dalem.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s