Cerpen: Tolong Aku!

Baik, dengarkan aku baik-baik. Ya, kamu harus memperhatikan ceritaku dengan sungguh-sungguh. Kamu boleh cerita kepada polisi setelahnya, hansip, atau siapapun yang kamu anggap menegakkan keamanan di sini. Aku sedang dalam kondisi terancam! Anggap saja cerita ini adalah permintaan minta tolongku kepadamu agar aku diselamatkan. Mungkin kamu langsung mengernyitkan dahi, karena tiba-tiba seseorang memintamu mendengarkan ceritanya, kemudian minta lapor polisi. Lagipula, aku yang sedang dalam keadaan bahaya, kok malah kamu yang diminta lapor. Tunggu, tunggu dulu. Aku paham kamu bingung, dan percayalah bahwa aku juga bingung. Tidak apa-apa, mungkin kamu akan mengerti kondisinya setelah mendengarkan ceritaku ini. Aku tidak bisa keluar dari sini, kalau bisa sih aku sudah lapor polisi dari tadi.

Kondisi terakhir yang aku ingat, aku sedang menanami padi di sawah yang beberapa hari kemarin aku beri air. Tiga perempat bagian sudah aku tanami, tinggal sisa seperempat lagi. Aku harus istirahat, karena matahari sudah tinggi, dan Sulastri, anak bungsuku, datang di saat yang sangat tepat membawakanku teh dalam poci dan beberapa potong mendoan. Aku duduk di pematang sebelah utara, dan kulihat Kusnan, tetanggaku yang sedang memandikan dua kerbau kesayangannya.

“Nduk, bilang sama Ibumu, bawakan satu gelas lagi, bilang untuk Kusnan.” perintahku kepada Sulastri agar mengambilkan satu gelas lagi untuk dipakai Kusnan. Kunikmati mendoan dalam mulutku, sambil kupanggil Kusnan untuk bergabung bersamaku.

“Nan, sini! Mbok ya jangan kerja terus, istirahat dulu sini!” Ajakku pada Kusnan.

“Inggih, pak” Jawabnya dalam bahasa Jawa medhoknya.

Ya, ya. Aku memang orang Jawa tulen, buktinya aku menyuruh orang yang kelihatannya bekerja terlalu keras untuk istirahat. Belum kulihat Kusnan menyerah dengan kerbaunya, ada sesuatu yang aneh: semuanya memudar, menggelap, dan kosong. Tiba-tiba aku ada di sebuah ruangan ini, bersama banyak orang. Ruangannya agak besar, ada kursi berbentuk L besar di ruang ini. Aku tidak mengenal tempat ini, aku pasti diculik! Kami semua duduk di ruas-ruas kursi berbentuk L besar tadi. Dua orang laki-laki, yang satu memakai baju batik, dan yang satunya berkaos oblong. Pria berbaju batik sepertinya sudah cukup berumur, mungkin berusia sekitar akhir lima puluhan. Nah, yang berkaos oblong ini masih agak muda. Samar-samar aku merasa pernah mengingat orang ini di suatu tempat, tapi aku tidak yakin di mana aku pernah bertemu. Selain dua pria itu, ada juga dua wanita lain, dan tiga anak remaja, yang semuanya perempuan. Wanita yang duduk paling ujung terlihat seperti Sulastri. Tentunya dia bukan Sulastri, maksudku kalau Sulastriku sudah dewasa, mungkin dia akan berwajah seperti wanita ini.

Tidak, tidak, dari gerak-gerik mereka, mereka tidak berniat jahat kepadaku, bahkan sebenarnya mereka ramah-ramah. Tapi tentu saja aku takut, makanya aku cerita ini padamu. Suatu kali, mereka menawarkan kopi kepadaku, tapi aku menggeleng. Aku takut diberi kopi oleh orang asing. Lagipula, aku tidak begitu suka kopi. Aku lebih banyak diam, dan kebanyakan aku mendengarkan mereka berbincang, tapi memang aku tidak begitu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Dari air muka mereka yang makin lama makin serius, aku kira mereka mendiskusikan suatu hal yang penting. Mungkin mereka ini satu keluarga, karena remaja-remaja perempuan tadi yang aku bilang, sering menggelayuti para Ibu yang sedang berdiskusi ini.

Kesempatan! Aku merasa kehadiranku tidak disadari oleh yang lain, dan aku mencoba keluar dari ruangan ini. Aku berjalan ke arah pintu secara diam-diam dan berusaha tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ya! Aku berhasil berdiri di depan pintu! Aku harus cari sandal, sepatu, atau apapun. Akupun melihat sebuah sandal hitam yang aku kira milikku, karena seingatku aku punya sandal dengan bentuk seperti itu. Aku pakai, dan aku merasa ada yang aneh. Benar saja, semua orang melihat ke arahku. Aku takut.

“Mau kemana?” Tanya salah satu dari mereka. Nadanya tidak mencerminkan perintah, atau kemarahan. Itu pertanyaan biasa. Aku diam, kemudian melepaskan sandalku, dan aku berjalan kembali duduk di kursi terakhir yang aku tinggalkan. Setelah aku duduk, mereka semua tertawa terbahak-bahak. Mengerikan. Tolong aku.

Setelah selesai dengan tertawaannya, mereka kembali berdiskusi, seakan hal sebelumnya tidak pernah terjadi, atau sudah biasa terjadi. Wajah mereka sangat serius, dan tidak ada yang melihat mata satu sama lain. Orang-orang dewasa menatap lantai mendengarkan pria berbaju batik berbicara. Pria berbaju batik ini seperti tahu yang dia katakan, dan didengarkan oleh orang-orang dewasa lain. Sekali-sekali, seorang wanita menimpali pernyataan-pernyataan pria berbaju batik ini.

Entah mengapa, aku jadi merasa nyaman dengan kondisi sekarang ini, terutama ketika mereka sedang berdiskusi. Bukan berarti aku ingin di sini, tapi memang aku bukan ancaman bagi mereka, dan aku kira mereka juga bukan ancaman bagiku. Beberapa kali terjadi keheningan dalam diskusi ini. Seperti sekarang ini, dan aku mencoba membuka diri, dan menanyakan “Kusnan sih di mana ya?” Ujarku mencairkan suasana. Pria berbaju batik dan oblong melihatku, mereka tersenyum tapi dipaksakan, dan tidak menjawab pertanyaanku sedikit pun. Kemudian setelah pertanyaanku tadi, beberapa keributan terjadi di pihak wanita, dan menunjuk-nunjuk aku. Aku kembali merasa takut dan terancam, dan aku ingin sekali pergi dari sini. Aku meringkuk di kursiku karena takut.

Aku tidak tahu berapa lama aku tidur, dan aku sendiri tidak paham kenapa aku bisa tidur di tengah kondisi yang serba asing ini, mungkin karena aku terlalu lelah. Orang-orang yang tadi diskusi sudah tinggal seorang pria berbaju batik, dan seorang wanita yang sudah berumur. Mereka berdua duduk tidak bicara, dan aku juga duduk terdiam. Setelah beberapa lama, pria berbaju batik ini berkata sesuatu yang masih belum aku mengerti, tapi kamu boleh menyampaikannya juga ke polisi. Dia bilang begini.

“Pak, aku nggak tahu bapak ngerti atau nggak, tapi aku nggak akan biarin bapak masuk panti jompo. Kadang aku juga mikir, mungkin bapak lebih banyak yang ngerawat di sana, tapi itu bukan rumah bapak. Meskipun semenjak Ibu nggak ada, bapak jadi gini, kami anak-anak bapak mau merawat bapak sebisa kami. Kami tidak akan menelantarkan bapak”

Tolong aku.

 

Cimahi, 24 Maret 2016

Untuk Mbah Kakung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s