photo-1450849608880-6f787542c88a

Memilih Kebebasan

Ketika bangun di pagi hari dan membuka mata, biasanya pikiran pertama yang terlintas di benak kita untuk sesaat adalah pikiran yang jujur. Sebodoh atau sedramatis apapun pikiran itu, datang dari hati yang paling dalam. Detik berikutnya lebih menarik lagi, karena bisa jadi sebenarnya kita sedang menjalani dunia yang kita pikirkan tadi, atau malah sebaliknya, kita sedang menjalani dunia yang kita anggap sebagai mimpi buruk dan kita terus berharap untuk terbangun, sampai akhirnya kita sadar bahwa itu bukan mimpi.

Bersyukurlah bagi mereka yang sedang menjalani kehidupan yang memang diimpikannya meskipun banyak orang yang memberikan tekanan sosial karena ketidakmapanannya. Salamku juga bagi mereka yang memilih untuk melanjutkan detik hidupnya karena menganggap nilai atau value yang menghasilkan uang tidak selalu datang dari korporasi, justru dari silaturahmi.

Waktunya Sudah Tiba

31 Desember 2015 adalah tanggal penting dari sekian tanggal yang pernah aku lewati, karena pada tanggal tersebut adalah hari terakhirku bekerja di sebuah perusahaan konsultan IT di Bandung. Bukan karena tidak nyaman, justru karena terlalu nyaman. Tidak tahu diuntung sekali aku ini, sudah diberi kenyamanan, malah minggat. Haha. Sebenarnya bukan seperti itu, aku berterima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan yang telah memberiku wawasan dan pengalaman yang sedemikian kayanya, namun pada titik tertentu, aku sudah merasa cukup.

Sekarang, aku memulai merintis usaha (baca: pengangguran). Tidak jauh-jauh dari dunia IT, aku membuat sebuah usaha di bidang web maintenance dan development. Perusahaan ini diberi nama oplosite. Sebenarnya perusahaan ini sudah didirikan dengan konyol pada 11 Januari 2013. Namun, karena didirikan dengan konyol, maka perjalanannya pun tidak begitu mulus. Terutama karena semua timnya sedang bekerja full time di tempat lain. Hal ini membuat pekerjaan di oplosite dikerjakan setengah-setengah dan tidak fokus.

Memandang Fokus

Hasil evaluasi dari ketidakberhasilan oplosite adalah ketidakfokusan tim dalam menangani proyek dan produk. Satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan adanya orang yang benar-benar berkomitmen di dalam oplosite untuk dapat terus memberikan layanan. Dengan demikian, saya memilih untuk fokus untuk mengembangkan oplosite ke arah yang lebih baik.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, aku banyak diingatkan kembali bahwa waktu dan tenaga kita terbatas. Tidak seperti dulu yang bisa melakukan banyak hal tanpa rasa lelah, tapi juga tanpa tujuan dan arah. Sayangnya, setelah kita tahu ingin kemana kita, tenaga yang dulu dianugerahkan tidak lagi sebesar dulu.

Fokus adalah sebuah kata yang menarik, karena lensa pembesar bisa membakar ketika difokuskan. Lensa pembesar saja demikian, apalagi otak kita, kan? Karena itu, perlu adanya pengaturan prioritas terhadap semua fokus yang kita jalani setiap waktu. Teu nyambung. Biarin.

Memandang Uang

Sebelum keluar dari tempat kerja, banyak sekali yang bertanya kepadaku mengenai uang. Bagaimana setelah keluar kerja? Uangnya cukup? Punya tabungan nggak? Udah punya pacar lagi belum? Dan untuk semua pertanyaan itu, aku bilang “tenang aja“. Keren ya.

Aku bisa berkata seperti itu mungkin karena aku belum punya anak ya. Tidak punya tanggungan sekolah anak, susu, dan lain-lain. Modal untuk aku hidup memang tidak terlalu besar, karena selama masih ada mie instan kari ayam di lemari, dan telur di kulkas, aku masih bersyukur.

Aku menganggap uang adalah konsekuensi dari value yang kita berikan. Semakin besar manfaat kita bagi orang lain dan alam ini, semakin besar value yang akan kita terima. Ada yang bilang win-win solution adalah utopia belaka, tidak ada hal di dunia ini yang bisa mencapai hal itu. Aku tidak setuju dengan hal itu, karena bisnis yang baik adalah win-win solution, di mana produser memberikan value added, dan konsumen memberikan harga, biasanya dengan uang, yang setimpal dengan value yang diperolehnya. Semua senang. Mudah? Tidak.

Adam Smith memang pernah berteori bahwa “manusia itu merespons terhadap insentif”. Namun, sebagai alat tukar, uang seringkali menjadi sebuah pujaan yang terlalu dilebih-lebihkan. Hanya uang yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bisa memberikan motivasi sebegitu besarnya kepada manusia untuk memutuskan silaturahmi keluarga, berlaku curang, hingga menjual harga diri.

Keluar dari pekerjaan tetap juga sebagai sebuah usaha untuk mengendalikan diri terhadap uang. Semakin seseorang ingin memiliki uang, semakin uang mengendalikan orang tersebut. Mari kita berdoa agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dikendalian oleh nafsu terhadap harta.

Memandang Kebebasan

Sebenarnya ini inti dari tulisan ini. Memilih untuk bebas berarti memilih untuk melepaskan diri dari banyak jenis ikatan. Ikatan yang dimaksud itu termasuk jabatan, harta, bos, presensi, tunjangan, dan sebagainya. Aku tidak mengatakan bahwa korporasi itu buruk. Namun, budaya yang ada di perusahaan-perusahaan besar seperti itu membentuk pola pikir terikat dan tidak bebas pada orang-orang di dalamnya.

Kembali lagi, ini adalah masalah perspektif. Korporasi dapat menjadi tempat yang sangat tepat untuk berkarya dan menghasilkan value, selama terdapat semangat komunal untuk bisa bergerak bersama dalam kebebasan yang terstruktur yang disebut dengan sistem, karena sistem ini dibutuhkan ketika seseorang tidak bisa mengatur secara langsung semua orang lainnya. Namun, aku melihat justru di sinilah orang-orang sering terjebak dengan jerat utopia kemapanan dan gengsi semata dalam sistem yang tidak membebaskan.

2 thoughts on “Memilih Kebebasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s