Telepon Gelap

Hari ini ada kejadian menarik. Pagi hari tadi, seperti biasa aku sedang neA. Kemudian terdengar bapakku memanggilku dengan terburu-buru dan bernada panik, “rip, jaga rumah dulu ya, kalau ada yang nelpon lagi, tolong urusin dulu. Si Urel (keponakanku) pingsan di sekolah, bapak mau ke sana. Ibu lagi pergi, hapenya ketinggalan “. haah? Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku soal apa yang bapak bilang barusan, dan sejujurnya aku tidak mengerti apa yang terjadi, dan informasi penting dari kalimat yang bapak bilang barusan adalah: keponakanku pingsan di sekolah.

Setelah mengucapkan hal tadi, bapak langsung naik motor, dan pergi. Benar saja, beberapa menit setelah itu, terdengar suara dering telepon. Ketika aku jawab telepon itu, terdengar suara lelaki yang berbicara terburu-buru dan terdengar kebingungan. Lagi-lagi, dia langsung berbicara banyak, dan aku tidak mengerti. Kira-kira isi pembicaraannya itu seperti ini,

“gimana pak, udah ditelpon? Tadi gurunya udah nganterin ke rumah sakit”, kata lelaki di ujung telepon.

“oh, bapak sudah pergi ke sekolah buat jemput Urel” jawabku

“Naah, Urel udah dibawa sama guru tadi ke rumah sakit. Terus udah ditelpon?”

“Telpon?”, tanyaku bingung

“Tadi kan saya kasih nomor”

“Haduh, saya belum ngerti. Ini saya bukan bapak tadi, saya anaknya. Bapak udah berangkat ke sekolah. Terus sekarang Urel di rumah sakit mana ya?”

“Itu juga saya gatau, tanya aja ke nomor itu. Cepet ya, mungkin Urel lagi butuh penanganan cepat. Tadi sampai pendarahan.”

“oh gitu, oke, abis ini saya akan telpon bapak.”

Setelah itu, aku telepon bapak, dan memintanya untuk menelpon nomor yang diberikan sebelumnya. Namun, kepanikan bapak di motor mungkin tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Beliau tetap mengendarai motor ke sekolah. Selain menelpon bapak, aku juga menelepon Ibunya Urel, yang juga panik setelah aku beritahu.

Keadaan makin dramatis terutama setelah ibu pulang, dan aku katakan kondisi Urel sekarang. Sontak Ibu langsung menangis, dan memintaku mengantarnya ke rumah sakit. Aku langsung siap-siap memakai celana dan jaket. Di tengah ketidak pastian itu, Ibunya Urel kembali menelepon, dan akhirnya memberikan berita bahwa Urel sekarang sedang belajar di sekolah. Haah? Bingung dah.

Ternyata, ketika tanya ke beberapa orang (tetangga, ibu teman-temannya Urel, dan beberapa orang lain), ternyata memang sering ada telepon gelap seperti itu yang mengada-ada suatu keadaan tertentu yang membuat panik. Sebenarnya, aku dan Ibuku jadi berpikir, apa untungnya untuk yang menipu ya? Apa jika kami menuruti menelepon nomor yang dia terima akan ada untungnya buat dia? Atau hanya ingin iseng saja? Yah, sudahlah. Yang penting, bagi ente-ente yang tiba-tiba menerima telepon gelap, tanya dulu namanya, terus klarifikasi ke pihak-pihak yang bersangkutan. Kesalahanku adalah tidak menanyakan nama si penelepon. Okeh?

2 thoughts on “Telepon Gelap

  1. Hm… Kayaknya sih kalau nomor itu ditelpon bakal tersambung ke orang yang mengaku dokter/ pegawai adminstrasi rumah sakit. Mereka bakal bilang adikmu butuh operasi dan butuh biaya yg harus ditransfer segera. Makanya si penelpon kayak memaksa sekali menyuruh bapakmu menelpon nomor yang dia kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s