Papandayan: Gunung Puisi

25-26 Januari 2013

Bawaan kami adalah alat sholat, alat mandi (walaupun tidak terpakai), obat, makanan, baju ganti, jaket tebal, tenda, alat masak, dan niat yang tulus. Tenda dan alat masak dijadikan satu di dalam tas ansor. Semua benda berguna dan tidak, dimasukkan ke dalam tiga buah tas. Satu milikku, satu miliki Ansor, dan satu milik Aep. Aku baru tahu, ternyata packing itu ada ilmunya, dan aku diajari Ansor dan Aep bagaimana caranya. Awalnya bagian dalam tas diberi alas trash bag agar isinya tidak basah jika ternyata nanti hujan atau jatuh ke dalam sumur, kemudian baru dimasukkan benda-benda tadi hingga tidak ada ruang yang mubadzir di tas kami, karena kami percaya bahwa mubadzir adalah teman setan.hehe.

Setelah semua di-pack dengan padat, ternyata ada yang lupa terbawa, yaitu parafin dan senter. Lalu kami berangkat naik motor ke pasar Kosambi untuk membeli parafin. Parafin harganya lima belas ribu rupiah satu pak, isinya delapan. Kemudian kami merencanakan untuk membeli senter di Alfamart setelah Jum’atan. Setelah membeli parafin, kami melaju dengan dua buah motor ke arah Jatinangor. Perhentian pertama kami: Unpad Jatinangor.hihihi. Jangan berprasangka buruk dulu, karena hari ini adalah hari Jumat, jadi kami harus menemukan tempat untuk Jumatan, dan kami pikir Unpad Jatinangor dengan segala isinya adalah pilihan yang tepat.

Setelah Jumatan dan makan siang, kami melaju lagi ke arah Garut. Seperti rencana besar kami sebelumnya, di perjalanan kami membeli sebuah senter, dengan bonus dua buah baterai. Di perjalanan, perasaanku tidak enak mengenai Randi <– Nama motorku, rantainya tidak enakeun, sedangkan medan yang harus dilalui mungkin akan menanjak, apalagi, saat itu hujan. Kemudian di tengah jalan (bukan di tengah-tengah jalanan) Aep menawarkan agar dia saja yang menyetir Randi. Yasudah aku berikan saja. Ini gambar saat kami berteduh di Alfamart, dan bertukar mengendarai Randi.

DSC00199

Sekitar jam lima sore, sampailah kita di kota Garut. Namun kami masih belum bisa menentukan sebenarnya gunung mana yang akan kami daki, karena banyak gunung di sana, dan tidak ada satu orang pun dari kami bertiga pernah ke sana. Intinya, kami tidak tahu Papandayan itu ada di mana. Namun sebuah gapura memiliki tulisan yang sangat mencurigakan, yaitu Wisata Gunung Papandayan. Kami masuk saja.

Jalanan setelah gapuran itu begitu meyakinkan, karena jalannya nanjak. Tentu saja gunung itu nanjak, dan kami percaya diri. Namun, setelah 15 menit meniti jalan itu, kami mulai pesimis. Pasalnya, di sepanjang jalan itu hanya ada perkebunan diselingi dengan rumah-rumah warga, dan terus menerus menanjak. Kami mulai berpikir, jangan-jangan perjalanan ini sampai puncak gunung Papandayan. Untuk mencapai ke puncak gunung papandayan itu memang tidak usah hiking, melainkan naik kendaraan saja. Kami mulai merasa khawatir dan kecewa, apalagi jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore.

Namun secercah harapan mulai muncul, ketika kami sudah mencapai sebuah pos, dan letaknya tidak di puncak gunung. Memang benar, itu adalah pos tempat pendaki harus melapur dulu sebelum mendaki. Kami parkir, kemudian mendaftarkan diri. Sementara Ansor mengurusi administrasi, aku dan Aep melakukan persiapan dan pemanasan.

DAN KAMI MULAI MENDAKI – PENDAKIAN PERTAMAKU

Kami mulai mendaki, walaupun aku hanya menggunakan sendal selop dengan merk Bata, namun itu tidak menyurutkan gairahku pada pendakian pertamaku ini.

DSC00224 DSC00226 DSC00229 DSC00240Di sana dingin, rasanya hampir sama ketika musim gugur di Seattle, bedanya kali ini aku memakai sendal selop. Kami harus melewati kawah aktif sepanjang beberapa ratus meter. Aa yang berada di depan kami bilang kepada temannya bahwa semua pendaki harus melewati kawah ini sebelum maghrib. Kawah ini benar-benar aktif, sehingga kami harus menggunakan masker agar tetap ganteng. Ketika aku berusaha untuk tidak menggunakan masker, mataku perih, sesak nafas, dan hidung meler. Jadi, aku menggunakan slayer medik SPARTA untuk menutupi hidung, dan aku kembali gembira.

Sekitar jam 6 kurang sedikit, kami berhasil melewati kawah dan masuk ke daerah dinamakan Lawang Angin. Seperti namanya, Lawang Angin berarti Pintu Angin. Terdapat sebuah celah di lereng gunung tempat angin hilir mudik. Namun, kami tidak bisa melewati Lawang Angin ini karena longsor ketika letusan terakhir di gunung ini di tahun 2002. Jadi, kami harus memutar jalan untuk mencapai tempat kami berkemah, yaitu Pondok Salada. Tapi di jalan sebelum Lawang Angin inilah keajaiban terjadi. Ansor menyebut ini dengan sebutan Combo. Di hadapan kami, Sang Kuasa sedang show off dengan melukis puncak Gunung Cikuray yang terkena sunset, di seberangnya ada puncak gunung lain yang tertutup awan putih yang lembut, sehingga menciptakan panorama melankolis. But THERE’S MORE! karena rintik-rintik hujan yang belum berhenti di tengah sunset, terciptalah sebuah PELANGI. gosh! Itu pemandangan paling mengagumkan yang pernah kami lihat. Tak hentinya kami bertasbih, Subhanallah, Subhanallah.

DSC00256 DSC00264PONDOK SALADA -Dimana Saladanya? Adanya Eidelweiss!

Sebelum sampai di Pondok Salada, langit sudah gelap. Betapa beruntungnya kami membeli sebuah senter dengan bonus dua buah baterai. Kami menyusuri hutan dengan jalanan yang cukup untuk lewat satu orang. Wow, ini semua sesuai dengan harapanku! Di hutan malam-malam. Yeah. Tapi tidak lama kemudian, terdengar suara seperti orang sedang bercakap-cakap, dan kami berharap itu memang orang.

Benar saja, setelah keluar dari hutan, terdapat sebuah tanah lapang, dan di sana terdapat pendaki-pendaki lain yang sudah terlebih dahulu sampai dan mendirikan tenda. Tapi aku tertegun melihat sebuah tanaman di hadapanku yang jarang aku lihat. Ya, itu adalah eidelweiss. Sayangnya, pada musim seperti ini bunga abadi ini tidak mekar (lah, katanya bunga abadi.hehe). Jadi, yang terlihat adalah kuncup-kuncupnya saja. Aku baru pertama kali melihat bunga ini hidup di tempatnya. Biasanya sudah jadi fosil. Ini jepretan yang diambil saat paginya.

DSC00294

Setelah kami menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda, kami pun unpacking, kemudian mendirikan tenda. Baru kali ini aku mendirikan tenda. Karena tidak lihai, aku memutuskan untuk menjadi lighting man saja yang memegang senter Alfamart karena saat itu sudah gelap.

Dan akhirnya memang berbentuk kurang lebih seperti sebuah tenda. Setelah selesai membuat tenda, kami sholat maghrib, kemudian syalala (mengambil air dan menata tenda). Setelah itu kami sholat isya, dan memasak. Ya, memasak. Kami memasak mie rebus dan baso. uhuuuu..

Setelah masak, kami mengobrol sebentar. Biasanya anak-anak muda itu kalau sudah kumpul bisa jadi begadang. Tapi ini, jam 10 sudah tidur. Kami sangat bersemangat.

Siklus tidur kami adalah tidur, terbangun karena mendengar suara aneh, tidur lagi, terbangun karena posisinya aneh, tidur lagi, terbangun lagi, dan terus hingga pagi. Paginya, kami sholat subuh, kemudian makan lagi dengan mie dan baso.

DSC00282 DSC00304Setelah selesai makan dan packing lagi, kami bersiap untuk naik ke puncak. seperti biasa, kami pemanasan dulu.

DSC00316

PADANG EIDELWEISS, HUTAN MATI DAN PUNCAK SEMU

Kami berangkat ke puncak, dan aku mencoba membawa tas yang dibawa Ansor. Di perjalanan, kami harus melewati sebuah rawa. Namun, kami memilih untuk memutari rawa itu, untuk ke puncak. Orang bilang untuk mencapai puncak, kami harus melewati hutan mati. Namanya begitu menggetarkan kalbu. Setelah berjalan cukup jauh, kami menyadari bahwa kami tersesat. Kemudian kami memutuskan untuk kembali, dan melewati rawa saja. Kali ini, aku sudah tidak menggunakan sendal selop, melainkan sepatu ganteng. Terasa berat ketika sepatu itu pertama kali harus tercelup ke dalam rawa.

Kami melewati sebuah dataran yang berisi eidelweiss di mana-mana. Wow! Kami mengira ini adalah padang eidelweissnya yang dikatakan orang-orang. Kami terus menyusurinya, kemudian kami sampai di hutan mati.

DSC00330Dikatakan hutan mati karena hutan ini tidak tumbuh apa-apa lagi setelah erupsi di tahun 202 lalu. Pemandangan di sini begitu eksotis, dan menggetarkan.

Lalu, setelah kami keluar dari hutan mati, terlihatlah sebuah puncak berbatu. Kami merasa itulah puncaknya. Kami pun mendaki puncak itu. Medan ke puncak ini begitu ringkih. Di lerengnya, tanah di sana terasa lembut dan empuk. Semakin ke atas, semakin banyak batunya. Kemudian kami menyadari bahwa akan berbahaya jika tetap membawa tas. Lalu kami menyimpan tas di semak di lereng gunung, kemudian melanjutkan pendakian. Semakin lama, jalan semakin curam dengan kemiringan sekitar 60-80 derajat. Saat memanjat, kami tidak boleh mendaki sejajar, karena di sana banyak batu yang bisa jatuh sewaktu-waktu. Jika kita tepat berada di belakang orang yang menjatuhkan batu, nyawa taruhannya. Selain itu, kita harus teriak setiap kali kita menjatuhkan batu, agar orang-orang di bawah bisa menyadari batu yang jatuh tersebut.

DSC00364Foto di atas tanpa rekayasa, kalau jatuh, mati kayaknya. Setelah sampai di atas, kami bingung mau apa lagi. Kami memandangi sebuah danau yang katanya bisa berubah warna sesuai dengan musim yang terjadi.

DSC00365Di atas, kami merasa bodoh. Kami tidak memikirkan bagaimana caranya untuk turun. Ternyata turun dari tempat seperti ini lebih mengerikan dibandingkan dengan naiknya, karena kita melihat langsung ke bawah. Kami yang tidak tahu teknik-teknik pendakian, melakukannya dengan penuh ke-sok-tahu-an. Ternyata, dari hasil riset kami selama turun dari puncak, tempat yang paling aman untuk turun adalah jalur air hujan.

Setelah istirahat sebentar di lereng, kami memutuskan untuk makan roti, dan mengumpulkan keberanian untuk berfoto dengan tim Jejak Petualang. Tapi kami gagal dalam mengumpulkan keberanian itu.

Setelah itu kami pulang, dan menyesal. Kenapa? Tanya saja kepada kami kalau ketemu. Sekarang aku sudah kesangan, dan mau pergi.DSC00405 DSC00425

Tapi sungguh, Papandayan itu gunung ibarat puisi. Yang mengilhami dan memberikan arti, pelipur lara dan gelisah hati. Tuh kan, jadinya puisi. Mari kita pergi.

3 thoughts on “Papandayan: Gunung Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s