IEEE Global Humanitarian Technology Conference 2012: The Journey

Setelah semua dokumen lengkap, dan semua tugas sudah didelegasikan, kini tiba saatnya untuk aku berangkat ke Seattle. Ini pertama kalinya aku akan naik pesawat terbang, pertama kalinya aku tidak menginjak pulau jawa, pertama kalinya aku mengikuti konferensi internasional, dan semua aku laksanakan sendirian. Ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa.

19 Oktober 2012

Aku pamit kepada teman-temanku di kampus, dan mereka dengan baik memberikan ucapan sukses dan hati-hati. Seperti biasa, mereka meminta oleh-oleh berupa bule yang soleh. -_-

Keluargaku sedang berkumpul di rumah, kakak-kakak, Mbah, jarang-jarang bisa seperti ini, terutama sebelum aku berangkat ke Seattle.

Sebelum berangkat, Mas Agus memberikan nasihat kepadaku untuk tidak membawa koper, sehingga tidak perlu membayar biaya baggage, dan bisa bergerak dengan lincah (naoon deui). Untuk itu, untuk satu minggu perjalanan, aku hanya membawa tiga pasang pakaian, termasuk pakaian yang aku kenakan. Ternyata hal ini akan menjadi masalah pada cerita selanjutnya. -_-

20 Oktober 2012

Aku diantar oleh keluarga ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Pesawat berangkat pukul 19.30. sebelum berangkat, Mas Agus memberikan gambaran mengenai kondisi-kondisi di Bandara yang akan aku singgahi, dan Mas Agus mengingatkanku untuk terus waspada. Tapi lebih tepatnya Mas Agus menakutiku saja, karena kenyataannya Alhamdulillah, tidak terlalu buruk, dan aku bisa menjalaninya sendiri dengan baik.

Setelah check in, aku dipindai oleh beberapa mesin. Untuk kali pertama, aku gugup dan barang-barang pun berjatuhan, terselip kemana-mana. Tapi untuk selanjutnya, aku melaluinya dengan baik. Aku menunggu di boarding room untuk beberapa saat, sambil mengirimkan SMS berpamitan. Setelah masuk ke ruang tunggu, diberikan pengumuman bahwa pesawat terlambat selama 16 menit karena alasan teknis. Ternyata hal ini hanya aku temui di Indonesia, karena penerbangan selanjutnya berjalan sesuai dengan jadwal. Sambil menunggu, aku putuskan untuk sholat Maghrib dan Isya dahulu di musholla, siapa tahu di bandara selanjutnya tidak ada musholla. Setelah menjadi imam sholat, aku berbincang dengan om-om yang sholat bersamaku, dan mengobrol soal pengalaman masing-masing. Setelah itu, barulah kami masuk pesawat, untuk kemudian lepas landas. Dan itulah saat pertama kalinya kakiku tidak menapak di bumi. Tegang dan bersemangat sekaligus, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Di pesawat tidak ada yang istimewa, karena seperti di bus saja, kecuali ketika mengingat kalau ini berada di atas awan, dan guncangan-guncangan yang terjadi mungkin mengakibatkan salah satu mesin berhenti. Haha..itu hanya pemikiran negatif ketika naik pesawat, terutama ketika melihat ke jendela. Semakin tinggi kita berada, semakin sakit ketika kita jatuh.. Sangat membangkitkan motivasi. -_-

Alhamdulillah, penerbangan pertamaku berlangsung dengan baik, dan berhasil mendarat di bandara Internasional Changi, Singapura. Ketika mendarat, sebenarnya aku bingung harus melakukan apa lagi. Aku melihat sekeliling, ada beberapa mba chinesse lucu memegang kertas bertuliskan nama, dan memanggil-manggil nama tersebut. Aku perhatikan, tidak ada namaku, tapi aku tetap berdiri di sampingnya.hehe.. Soalnya aku tidak tahu harus kemana, dan dia memandangiku dengan heran. Setelah dia berhenti memanggil-manggil karena orangnya sudah datang, barulah aku bertanya kepadanya, “where do I have to go?” sambil menunjukkan rencana perjalananku. Awalnya dia menjawab dengan menggunakan bahasa inggris. Karena mengerti bahwa aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, dia melihat passportku, dan mulai berbicara bahasa Indonesia dengan lucunya. Dia berkata bahwa aku harus melakukan check in di terminal 3, transfer desk. Tapi transfer desk itu baru buka pukul 4 pagi, sedangkan waktu itu pukul 11 malam. Alhasil, aku harus menunggu 5 jam untuk check in ini. Di sana, ternyata bukan hanya aku yang menunggu check in sepagi itu. Ternyata banyak bule yang melakukan hal itu. Dan baru pertama kalinya aku melihat bule tidur di emperan, di bawah wastafel, dan di sofa-sofa tunggu bandara.hehe. Aku memilih tidur di sofa saja.

Jam 4 pagi, sudah ada orang yang mengantre di transfer desk, dan aku mengikuti di belakangnya. Sebelum melakukan check in, ada seorang ibu-ibu melayu dengan pakaian satpam memeriksa setiap calon penumpang. Ketika giliranku, dia kaget ketika aku mengatakan bahwa aku tidak membawa koper. Aku diinterogasi di tempat, dan diberikan stempel merah di passportku, yang artinya “orang ini aneh, jangan dekat-dekat”.hehe..maksudku “ada yang aneh dengan orang ini, berikan dia perhatian lebih”. Sehingga aku harus diperiksa ekstra ketika masuk ke bagian pemberangkatan.

Untungnya, masih boleh berangkat. Kalau tidak, aku tidak tahu harus kemana lagi. Tapi plan B-nya jika aku tidak diperbolehkan berangkat adalah dengan menjadi tukang warnet di Singapura. Hehe. Keberangkatan kali ini aku naik pesawat United Airlines menuju Bandara Internasional Narita, Jepang. Perjalanan kali ini menempuh waktu lebih dari 6 jam. Di bandara Narita, aku hanya ganti pesawat saja, dengan maskapai yang sama. Di sini, tidak terlalu lama dan tidak terlalu ribet. Setelah masuk ke pesawat selanjutnya, aku langsung terbang ke Seattle, Tacoma. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 7 jam melewati Samudra Pasifik, dan perbatasan zona waktu. sehingga, meskipun aku berangkat hari Minggu sore, aku masih sampai di Amerika hari Minggu pagi.

Pukul 11 pagi, aku sampai di Tacoma, Seattle. Di sini, aku kembali dibentak-bentak oleh keamanan bandara karena tidak membawa koper. Namun akhirnya aku diperbolehkan untuk keluar bandara. Udara saat ini dingin, sekitar 10 derajat celcius. Di tengah kedinginan itu, aku bingung harus bagaimana..galau.haha. Aku coba keluar bandara, ternyata suhunya terasa lebih dingin, uap putih keluar dari mulutku setiap bernafas. Seperti berada di dalam kulkas.

Kemudian ada Ibu keturunan Afrika-Amerika memanggilku,

“hey, young man! You need some helps?”

“iyes”, jawabku

“Where will you go?”

“Renaissance hotel”

“oh..sdsandkasndka turn left dnaksdjlamndlsadas turn right dsanbdkjs upstairs” aku tidak mengerti sebagian besar ucapannya, hanya arah-arah saja yang aku dengar.  Ternyata, setelah selesai memberikan penjelasan, ibu keturunan Afrika-Amerika itu meminta sumbangan seikhlasnya untuk orang-orang yang membutuhkan. Aku beri saja 2 dolar. Aku tidak tahu apakah itu banyak atau sedikit.

Akhirnya dengan taxi seharga 45 dollar, aku berangkat menuju hotel. Pemandangan di kota ini begitu indah, apalagi ini musim gugur. Dengan pemandangan pohon-pohon yang memerah, sebagian besar masih kuning dan jingga, tapi ada juga yang masih hijau. Udara yang sejuk, aku semakin bersemangat untuk menanti apa lagi petualangan selanjutnya. Sudah dulu, aku harus menghadiri sebuah presentasi dulu. Kita sambung lagi nanti.

Seattle, room #2006, Autumn 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s