Punk Mengajari Kita Sesuatu

Di salah satu lampu merah di Yogya saat aku sekeluarga mudik,kami melihat anak muda yang memberhentikan pick up yang berhenti di samping mobil kami untuk meminta tumpangan. penampilan orang tersebut kumal dan banyak aksesoris a la anak muda yang tidak terlalu peduli penampilan.
“tuh lihat, itu anak nakal!”, kata ibuku ke keponakan yang baru naik ke kelas 3 SD. Di dalam hati aku bertanya,”sejak kapan orang yang minta tumpangan pick up jadi anak nakal? apa karena penampilannya?”. Aku tidak langsung berkata itu ke ibu, karena memang mungkin itu hal sederhana yang bisa dimengerti anak kecil.

Anak punk, anak vespa, banyaklah nama mereka. Mereka identik dengan dandanan ga jelas, tidak pernah mandi, suka berbuat onar, nakal, dan sebagainya. Tapi kok aku tidak sependapat dengan pendapat itu ya.
Ada yang bilang kalau punk itu aliran musik, tapi lebih luas lagi punk adalah sebuah gaya hidup urban. Terus terang aku sangat kagum dengan orang-orang ini, kagum dengan bagaimana mereka bisa kaffah (total) menjalani gaya hidup pilihan mereka itu, meskipun orang-orang menganggap mereka adalah pengganggu, penyakit, dan sampah.
orang-orang yang biasanya memilih gaya hidup seperti ini biasanya anak muda yang belum berkeluarga, atau memang orang-orang yang tidak puas dengan sistem dan dogma yang ada sekarang ini.

Inti dari gaya hidup ini adalah kebebasan. Itulah yang menjadi salah satu kekaguman utamaku. Mereka bisa hidup tanpa peduli dengan pandangan orang lain tentang mereka, which is hal yang sulit kita lakukan sekarang ini, ketika citra diri kita pada orang lain menjadi hal yang sangat penting. Hal tersebut juga mengajari kita kejujuran: they show who they really are. Kita juga bisa melihaf bahwa anak-anak punk bergaul dengan sesamanya. Tentunya sahabat-sahabat yang memiliki kesamaan pandangan, bahkan penderitaan. Tapi yang bisa kita ambil pelajarannya adalah bahwa persahabatan mereka adalah persahabatan yang apa adanya. Tidak melihat strata atau harta.

Meskipun demikian, banyak orang yang merasa terganggu dengan kehadiran mereka karena sering dipalak, jambret, dan sebagainya. Namun ini juga aku rasa bukan kemauan dari mereka. Mereka melakukan gaya hidup yang tidak bersesuaian dengan gaya hidup orang kebanyakan. Mereka butuh makan, orang-orang umum hanya tahu kalau ingin makan, maka harus membelinya dengan uang. Sedangkan pada saat yang bersamaan, gaya hidup punk melaksanakan suatu kebebasan finansial. Hal ini tentunya akan menimbulkan bentrokan kepentingan dan pandangan, dan seperti biasa mayoritas lah yang “benar”.

Dalam tulisan ini aku ingin mengajak pembaca untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Bukan berarti aku pro vandalisme dan semacamnya, namun perdamaian yang dilandasi saling pengertian akan jauh lebih baik.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s