Ide Di Atas Motor (1): Menjadikan Sopir Angkutan Umum Bergaji

setiap orang punya “goa hiro” masing-masing yang memberi banyak inspirasi dan tempat yang cocok untuk merenung. Ada yang di tempat kerja, bus, namun kebanyakan di toilet. Selain tempat-tempat tersebut, motor adalah salah satu tempat yang menyenangkan untuk melakukan itu semua. hal itu karena perjalanan kampus-rumah memakan waktu kurang lebih satu jam, sudah termasuk macet. Nah, satu jam ini sering sekali menjadi waktu bagiku untuk merenung, merencanakan sesuatu, bahkan memikirkan algoritma. :p
ternyata sayang apabila pikiran-pikiran di atas motor ini tidak ditulis, dan akhirnya terlupakan. Baiklah, mulai sekarang kita akan mengingatnya melalui tulisan-tulisan di blog ini.

Ide Di Atas Motor (1)
ketika macet di daerah Gunung Batu, Bandung, sempat terpikir kenapa semua kemacetan ini bisa terjadi? Jadi aku mengelompokkan penyebab kemacetan yang sering terjadi sebagai berikut:
1. jumlah kendaraan yang terlalu banyak
2. lebar jalan yang tidak mengakomodasi jumlah kendaraan
3. angkutan umum yang tidak dimanfaatkan dengan baik
4. murahnya biaya parkir
5. Delman (atau kendaraan tradisional lain) yang tidak tertib

Dari beberapa penyebab di atas, ternyata aku sampai pada kesimpulan penyebab utama kemacetan di Indonesia: angkutan umum yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Lihat saja anot, bus, atau angkutan umum lainnya yang semena-mena “ngetem”, yang biasanya membuat kemacetan di sana-sini, terutama ketika jam pulang kerja. Nah, berikut ini yang aku pikirkan solusinya:
1. Menggaji sopir angkutan umum
2. Memberi berbagai pelatihan untuk sopir angkutan umum, seperti pegawai pada umumnya
3. Pemanfaatan halte
4. Penegakkan hukum yang tegas

meskipun aku pesimis dengan dua solusi terakhir, namun setidaknya itulah yang aku pikirkan. Mari kita bahas satu persatu. Bayangkan jika sopir diberikan gaji. Berapa pun penumpang yang naik, gaji sopir tetap. Hal ini yang diharapkan akan membuat sopir tidak ngetem. Karena pemerintah yang harus menggaji para sopir ini, maka jika terlalu banyak orang yang menjadi sopir (seperti saat ini), maka anggaran pemerintah tidak akan mencukupi untuk membiayai seluruh sopir yang ada. Untuk itu, HANYA SOPIR YANG BERKOMPETEN yang akan benar-benar menjalankan angkutan umum. Yang kedua adalah pelatihan. Bayangkan keramahan dan ketertiban yang terjadi ketika para sopir angkutan umum adalah orang-orang yang memiliki keahlian dan pendidikan (di bidangnya). Itulah yang bisa dibenahi dari segi sistem. Jika hal ini terwujud, dua solusi terakhir bisa berjalan dengan sendirinya. Namun, ketika mengutamakan kesadaran penumpang (yang jumlahnya lebih banyak) untuk menunggu angkutan umum di halte, maka ketertiban akan lebih sulit diwujudkan. Untuk solusi nomor 4, yasudahlah ya, tidak usah dibahas..πŸ™‚

“Let’s dreaming, let’s driving”πŸ˜€

One thought on “Ide Di Atas Motor (1): Menjadikan Sopir Angkutan Umum Bergaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s