Eksekusi Penggusuran PKL Taman Sari

24 November 2011, 08.30

suasana hari ini panas dan berdebu. Membuat banyak orang juga lebih mudah marah, saya pikir. Tapi tentunya bukan hanya karena hari ini yang bersuhu panas, namun juga karena hari ini adalah hari eksekusi para pedagang kaki lima yang berada di antara gerbang kebun binatang Taman Sari dan pertigaan jalan Gelap Nyawang.

Sederet bangunan semi permanen hingga bangunan permanen yang berada pada kompleks tanah tersebut sekarang sudah dihancurkan. Warteg, tempat foto kopi, laundry, tempat jual pulsa, dan sebagainya sekarang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh mahasiswa sebagai sumber pasar utama, selain pengunjung kebun binatang, pedagang sekitar Taman Sari.

Drama penggusuran ini terjadi sejak pukul 08.30 waktu setempat. Pagi sebelumnya, petugas Satpol PP lengkap dengan buldozernya berbaris pagi-pagi untuk mengadakan pengarahan memulai penghancuran. Ketika penghancuran dimulai, saya dijarkom untuk sekadar datang, atau membantu mengangkat barang-barang yang masih tertinggal di toko sebelum buldozer datang.

Ketika saya sampai ke lokasi, tinggal dua bangunan saja yang masih belum dihancurkan. Tempat itu adalah tempat foto kopi langganan saya yang buka 24 jam. Ketika saya mendekati sang empunya untuk menanyakan beberapa hal, beliau menangis. Tak sampai hati rasanya ketika bapak itu mulai menangis kemudian jongkok untuk melanjutkan tangisnya. Tak banyak lagi yang bisa saya lakukan selain memegang pundaknya agar hanya dia tahu kalau dia tidak sendiri. Namun, saya yakin itu tidak banyak berarti.

Daripada diam saja, saya bersama beberapa teman yang juga ke lokasi membantu mengangkat barang yang masih berada di dalam toko untuk dipindahkan ke mobil pick-up yang akan mengantarkan barang (ke daerah Gunung Batu, belum ditanya lebih jauh mengenai hal ini). Tak lama setelah barang diangkut, sekarang giliran istri bapak tadi yang pingsan. Orang-orang seadanya di sekitar ibu itu langsung berusaha sebisa mungkin membaringkan di tempat paling nyaman pada kondisi seperti itu.

Ketika bangunan ini dirobohkan, saya masih di sana. melihat dengan kepala sendiri bagaimana sisi demi sisi dihancurkan. Tempat yang digunakan untuk membaringkan ibu yang pingsan tadi sudah hancur. Terdengar seorang Ibu lain yang melontarkan serapah, dan beberapa hal yang menyangkut 30 juta, juga mengata-ngatai satpol PP adalah penjahat. Betapa tidak, kita pasti sudah bisa merasakan apa yang ibu tersebut rasakan tanpa tahu sejarah hidupnya. Melihat bangunan yang menjadi atap pelindung hujannya sudah tidak ada lagi. Bagaimana jika itu terjadi pada kita?

Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang di sekitar situ. Terdapat hal yang menarik dan mengenaskan. Sebenarnya, para pedagang pernah berkumpul setelah mereka mendapatkan surat peringatan pertama (sekarang sebenarnya sudah tiga surat peringatan). Ada satu oknum yang menyatakan bahwa, jika pedagang bisa menghimpun 30 juta, maka lahan yang mereka tempati tidak akan digusur. Setelah semua pedagang menyetujui hal ini, mereka menghimpun dana dan membayarkan uang ini kepada oknum tersebut. Namun, meskipun telah dibayar, surat peringatan kedua masih muncul. Hal ini merambat hingga penghancuran bangunan pada hari ini. Teganya ada yang berbuat demikian di tengah kondisi terjepit masyarakat.

Jika dilihat dari spanduk yang dibentangkan di sekitar tempat penggusuran, penggusuran dilakukan hingga rumah warga dekat jalan Taman Hewan. Namun hal itu tidak dilakukan hari ini. Saya juga sempat ngobrol dengan warga pemilik rumah yang lahannya berada di lahan pemerintah ini. Mereka mengaku membayar PBB setiap tahunnya. Hal ini yang saya pikir aneh. Jika memang lahan tersebut memang lahan ilegal, bagaimana mereka membayar PBB? Ada yang salah dengan pemerintahan kita.

Penggusuran rumah warga ini tinggal menunggu waktu. Hal ini juga bisa terjadi kapan saja.

Kita lihat saja, apakah penggusuran yang notabene dilakukan untuk dibangun Ruang Terbuka Hijau ini benar-benar dilaksanakan. Jika sampai tidak dilaksanakan, penghancuran kehidupan manusia yang baru saja terjadi harus dikorbankan dengan sia-sia. Kita percayakan satu kesempatan lagi pada pemerintah. Jika mereka gagal, maka mereka adalah pemimpin yang Dzalim..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s