Model Analisis

Karakteristik Domain Persoalan Setiap Model 
 
1.  Scenario Based Modeling 
Model ini merupakan model yang bergantung pada permasalahan yang sekuensial dan 
terfokus pada proses. 
 
Element : 
-  Use cases – text 
-  Use case diagrams 
-  Activity diagrams 
-  Swim lane diagrams 
 
Karakteristik : 
-  Permasalahan terbagi-bagi menjadi tahapan-tahapan proses.  Tahapan dan proses 
selajutnya dapat dianalisis menjadi use case yang sesuai. 
-  saling berkaitan antara proses yang satu dan proses lainnya. Keruntutan proses 
tidak sepenuhnya diperlukan, namun hal ini penting agar diagram-diagram dapat 
dibuat dengan mudah. 
-  Interaksinya lebih banyak dengan user. Interaksi terhadap user menentukan 
bagaimana proses akan terbentuk.  
-  Tidak terlalu tersebar pada entitas-entitas atau objek. Entitas-entitas yang variatif 
menyebabkan model semakin kompleks bila diselesaikan menjadi proses-proses. 
 
2.  Data Modeling 
Dalam data modeling yang dimodelkan adalah data yang harus dikelola perangkat 
lunak dan relasinya. 
Data Modeling biasanya menggunakan ERD yang mempunyai elemen-elemen antara 
lain : 
  Entity/Entitas 
  Relationship/relasi 
  Atribut 
  Kardinalitas 
  Modalitas 
Karakteristik domain yang cocok untuk dimodelkan dengan data modeling adalah : 
  Domain permasalahan yang mengharuskan perangkat lunak untuk mengelola 
data. 
  Domain permasalahan berhubungan dengan banyak entitas luar dan  perlu kita 
perhatikan relasinya dengan perangkat lunak kita. 
  Permasalahan yang membutuhkan suatu basis data yang berukuran besar. 
  Permasalahan yang lebih membutuhkan mekanisme peyimpanan data yang 
baik dan lebih sedikit melakukan pemrosesan. 
 
 
 3.  Class Based Modeling 
 
Terdiri dari element: 
 
1.  Class 
2.  Operation 
3.  Agregat 
4.  Association dan Dependencies 
5.  Package 
 
Cocok untuk : 
1.  Terdapat objek yang dapat diidentifikasi, diklasifikasi, dan didefinisikan. 
2.  Terdapat banyak objek  
3.  Dari objek-objek bisa dibentuk kelas-kelas. 
4.  Terdapat hubungan antara satu kelas dengan kelas yang lainnya (bisa 
merupakan turunan atau menggunakan kelas lainnya). 
 
4.  Flow Oriented Modeling 
-  Karakteristik Flow-oriented Modeling 
Data Flow Diagram (DFD) merupakan alat yang digunakan untuk melihat input-
proses-output dari sebuah sistem. Aliran data objek yang masuk ke dalam 
perangkat lunak, diubah oleh elemen-elemen pemroses, kemudian hasil dari objek 
data mengalir keluar dari perangkat lunak. Objek data direpresentasikan dengan 
panah berlabel dan transformasinya direpresentasikan dengan lingkaran (sering 
juga disebut bubble). DFD ini direpresentasikan dengan pola hirarkis. Model 
aliran data pertama (disebut juga DFD level 0 atau context diagram) 
merepresentasikan keseluruhan sistem. DFD level selanjutnya menjelaskan 
context diagram, bertambah detil di setiap level berikutnya. 
Tujuan dari data flow diagram ini adalah untuk menyediakan jembatan 
semantik antara pengguna dan developer. Artinya, diagram alir yang disajikan 
harus dimengerti oleh baik pihak awam (pengguna), namun tetap informatif 
bagi pihak developer. 
 
-  Karakteristik domain yang cocok dalam penerapan flow-oriented 
Untuk kasus perangkat lunak yang terdapat aliran data di dalamnya, bisa 
dimodelkan dengan flow-oriented ini.  
a.  Model ini menitikberatkan pada sudut pandang masuknya data, 
pemrosesan data, dan keluaran data hasil proses perangkat lunak.  
b.  Masalah yang digambarkan data flow diagram ini bersifat umum-khusus, 
yaitu menerangkan perangkat lunak secara umum, kemudian dicarikan 
detil untuk setiap level berikutnya. 
c.  Melibatkan tempat penyimpanan data (basis data) 
d.  Melibatkan entitas luar sistem yang mengirimkan data kepada sistem, 
juga entitas yang menerima sistem dari perangkat lunak yang dibuat. Contoh kasus yang sering diungkapkan sebagai contoh untuk model ini adalah Safe-
Home security yang disajikan dalam buku yang ditulis oleh Pressmann halaman 227-
228. 
 
 
5.  Behavioral Modeling 
Behavioral model mengindikasikan bagaimana suatu perangkat lunak 
merespon even-even dari luar yang akan terjadi. Tidak seperti model analisis lain 
yang merepresentasikan elemen yang statis, behavioral model merepresentasikan 
elemen yang dinamis sehingga lebih siap untuk menangani perubahan-perubahan 
pada sistem perangkat lunak. Behavioral model cocok digunakan apabila kita ingin 
menganalisis bagaimana langkah-langkah yang diambil suatu perangkat lunak untuk 
berpindah dari suatu state ke state lain saat suatu even terjadi, dan juga alternatif 
langkah untuk menuju state lainnya. 
Contoh sederhana adalah pada sistem mesin penjual minuman otomatis. Ada 
suatu state dimana mesin tersebut menunggu koin. Ketika ada even menerima koin, 
maka state akan berpindah ke menunggu masukan pelanggan. Setelah itu, akan ada 
alternatif state yaitu mengeluarkan minuman atau mengembalikan pembayaran. 

Konsistensi Model Requirement dari Kombinasi Perspektif 
 
1.  Scenario based – Class based 
Konsistensinya : aktor-aktornya harus konsisten.  
Contoh: Tugas Besar Harvest Moon pada Semester 4 tugas Objek Oriented 
Programming.  
Perbedaan perspektif mengakibatkan pemodelan yang menurut objek ataupun 
menurut proses sehingga diperlukan konsistensi dari aktor yang diacu. 
 
2.  Scenario based – behavioral 
Konsistensinya : aktor-aktornya harus konsisten. Kelakuan suatu aktor dalam 
behavioral harus sesuai/tidak menyimpang terhadap case case yang ada pada use 
case diagram

Tulisan Di atas merupakan hasil kerja sama:
RESTU ARIF PRIYONO    13509020 
TAUFIK PRASETIYA    13509029 
GILBRAN IMAMI      13509072 
GURUN NEVADA DHARAN  13509076 
ALFIAN RAMADHAN    13509078

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s