Makro dan Mikro

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”

 

Selasa, 19 Juli 2011 diadakan kembali survey pengmas camp ke desa Tarumajaya. Survey kali ini, diikuti oleh seorang daemon yang sepertinya langsung kapok setelah surveynya yang pertama ini. Di sana, kami membagi diri menjadi dua tim. Tim pertama yang terdiri dari 6 orang bertugas membuat peta situ Cisanti(yaitu Yosef, BP, RBJ, Taufik, Dhika, Ardhin), dan tim kedua yang terdiri dari 3 orang berkonsolidasi di balai desa(Ane, Anshor, Okky).

 

Pada awalnya, seperti biasa, orang pertama yang dicari sesampainya kami di balai desa adalah pak Ayi, pak Kepala desa. Beliau mengarahkan kami kepada kepala suatu lembaga bernama LMDH (Lembaga Masyarakat Hutan Desa), pak Agus. Pak Agus ini adalah seorang lulusan UPI yang menjadi guru di desa ini. Banyak sekali pelajaran yang kami peroleh dari pertemuan ini. Pertama kami bertemu, kami diceritakan mengenai sejarah situ Cisanti, kemudian beliau juga bercerita bagaimana beliau pada waktu yang lampau menjadi seorang yang dijuluki “penjagal leher petani”. Kenapa? Jadi, pada suatu waktu, seiring dengan banyaknya warga desa Tarumajaya yang berprofesi sebagai petani, semakin banyak pula lahan milik pemerintah yang dijadikan ladang pertanian. Pak Agus melihat bahwa jika ini dibiarkan terus, maka lahan yang tersisa tidak bisa berfungsi sebagai mana mestinya. Ini harus segera dihentikan. Beliau mengajukan konsep pemindahan dan pembatasan penggunaan lahan pertanian, dan menyeimbangkannya dengan lahan yang berfungsi sebagai hutan alami. Namun, usaha ini tidak berjalan dengan mulus. Petani yang sudah terlanjur memiliki ladang merasa dirugikan, dan akhirnya beliau dimusuhi oleh masyarakat desa. Dia berkata,”untung saja tidak main bunuh”. Namun, pada akhirnya masyarakat sadar dengan alasan yang diberikan pak Agus ini. Demikianlah kami menjadi saksi seorang pelaku perubahan yang tidak menyerah membawa lingkungannya ke fase yang lebih baik. Selain itu, kami juga belajar beberapa hal:

  • Beliau bisa melihat persoalan secara makro dan mikro dengan seimbang
  • Perbedaan antara pecinta alam dan penikmat alam

Dari pertemuan ini, adalah level baru dari pengmas camp, karena pak Agus menjembatani kami dengan pihak perhutani yang notabene memiliki daerah situ Cisanti.

 

Hari ini, kami pun beranjak kembali ke Tarumajaya dengan niat untuk konsolidasi dengan pihak perhutani. Konsolidasi hari ini menggunakan motor. Hanya kami bertiga, Okky, ane, dan Anshor. Ternyata jalanan lebih ganas jika menggunakan motor. Okky sampai “terbang” di daerah Pacet karena Randy tersentak lubang jalanan.

Sesampainya di Tarumajaya, kami langsung ke rumah Pak Agus, sekitar pukul 9.  di sana, pak Agus sudah rapi dengan kemeja batik dan kaca mata hitam. Mempersilakan kami masuk ke rumah. Sebelum masuk, kami tersenyum pada Rihanna, anak pak Agus.hehe..lucu sekali namanya.

Di dalam rumah, saya sebenarnya sempat panik, karena yang tahu kedatangan kami bukan hanya pak Agus, namun juga pak SekDes, dan 2 tokoh warga lain. Kami merasa “diontrog”. Namun, setelah kami kenalan dan ngobrol-ngobrol, ternyata mereka mendukung acara ini. Bahkan kami diberi pinjam majalah mengenai Citarum berjudul “Dari Citarum Sampai ke Hati”.hho.so sweet. Dari majalah itu, saya baru tahu kalau Taruma adalah sebuah tanaman yang bisa dijadikan pewarna. Citarum mungkin berasal dari Ci dan Taruma. Kemudian gunung wayang sebenarnya bukan seperti wayang yang kita bayangkan. Tapi ternyata wayang itu diambil dari kata wa yang berarti angin yang sejuk, dan yang yang berarti dewa atau Tuhan, jadi wayang disini adalah angin dewa.

 

Ternyata Pak Agus tidak bisa mengantarkan kamu ke perhutani, sehingga digantikan oleh pak Andri. Pada saat baru keluar balai desa untuk menuju perhutani, saya sadar kalau ban motor saya bocor. Untungnya ada tempat tambal ban di sekitar balai desa. Agar tidak mengganggu, maka saya persilakan teman-teman yang lain dan Pak Andri untuk duluan ke perhutani, biar saya susul kalau sudah selesai ditambal. Jalan ke perhutani adalah ke arah atas situ Cisanti. Pak Andri bilang hanya 3/4 jam untuk sampai ke sana. Dia bilang,”memang 3 kilo(meter) ke depan bakal rusak jalannya, tapi setelah itu jalannya bagus, dan pemandangannya juga bagus”. Ternyata setelah menjalani jalan tersebut, saya baru tahu kalau ucapan Pak Andri lebih banyak hanya untuk memotivasi kami untuk bertahan diterpa jalanan yang luar biasa rusak parah. Kondisi jalan dari kota ke Tarumajaya seakan-akan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jalan yang rusak ini. Tapi lumayan terbayar dengan pemandangan yang super indah dari kebun the.

 

Di perum perhutani, kami kembali tersadarkan bahwa konsep acara kami masih perlu dikaji. Kami terlibat dalam situasi yang kompleks yang melibatkan banyak sekali pihak yang tidak main-main. Mulai dari warga, LSM, hingga pemerintah. Hal ini memang sepertinya membuat semangat Anshor turun dan menuntut totalitas dari HMIF. Namun, saya berharap Anshor bisa mencari celah kesempatan di balik kompleksitas yang kita hadapi sekarang..

 

“berhentilah menjadi sesuatu yang bukan dirimu” –How To Train Your Dragon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s