Hubungan Pengabdian Masyarakat HMIF dengan entitas luar

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” Q.S. Ar-Rahman: 13

Kepengurusan DE HMIF tahun ini memang berada di akhir kepengurusan kabinet Herry, kemudian masuk ke kepengurusan kabinet Tizar. Beberapa waktu lalu, yangie (Menteri PM kabinet Tizar) melakukan roadshow ke HMIF. Karena masih dalam masa liburan dan yang lain sedang sibuk simulasi SPARTA, ya bisa ditebak, yang menerima yangie adalah aku sendiri.hhe

Roadshow ini adalah salah satu cara PM kabinet untuk membuat peta pengabdian masyarakat setiap himpunan agar bisa dilihat gambaran besarnya. Ini adalah cara yang tidak mudah, tapi luar biasa kalau ini benar-benar dibuat. Apa motivasinya sampai membuat peta pengabdian masyarakat ini? Sebenarnya yangie merasa kalau setiap himpunan dan kabinet benar-benar terpisah. Acara PM kabinet sendiri, begitu juga dengan himpunan, dengan mengagungkan keprofesian masing-masing. Setiap himpunan masih merasa “posesif” terhadap program kerj a pengabdian masyarakat masing-masing. Padahal, yang namanya pengabdian masyarakat tidak harus dimiliki, tapi dikembangkan, siapapun orang yang mengembangkannya. Mungkin Yangie ada benarnya juga, kalau benar bertitel pengabdian masyarakat, kenapa kita harus egois, ngotot harus sendiri yang mengerjakannya? Yang penting kan, tujuannya tercapai.

Di awal roadshownya, Yangie bertanya mengenai program kerja divisi PM tahun ini, ini dia:

  • Kajian isu sosial
  • BINER
  • Pengmas camp
  • Donor darah 4 labtek
  • Tanggap bencana
  • Koordinasi dengan kabinet

Dari topik ini, ada beberapa yang didiskusikan:

  • Untuk BINER, sebenarnya ada program kabinet yang bernama SKHOLE, yang sama-sama di bidang pendidikan. Sampai sekarang belum ada benang merah yang tersambung antara BINER dan SKHOLE. Yangie meyakinkan aku beberapa keuntungan jika ini dikoordinasikan dengan baik, yaitu kurikulum dan teknik pengajaran dari kedua kegiatan ini bisa saling isi. Mungkin untuk ke depannya, bisa lebih dikoordinasikan bila ada kesempatan.
  • Ternyata yang mengadakan donor darah bukan hanya 4 labtek, melainkan banyak himpunan. Jika ini tidak dikoordinasikan, maka kemungkinan banyak kegiatan donor darah yang dilaksanakan dalam waktu yang berdekatan. Ini sangat tidak efisien. Untuk ke depannya, mungkin jika ada rencana donor darah, sekalian pekan donor darah ITB aja, tapi HMIF tetap jadi koordinatornya. Mengajak semua himpunan untuk ikut bergabung mengadakannya..
  • Untuk pengmas camp, aku minta kontak untuk orang yang kira-kira berpengalaman menganalisis desa, dan diberi kontak ke kadiv PM HMP, Ganesha Hijau, dan anak MTI. Kemudian, ada salah satu program kabinet yang bernama Desa Mitra. Mungkin pengmas camp tidak berorientasi pada comdev, namun siapa tahu dengan pengmas camp ini, kita membuka lahan baru bagi himpunan atau pihak lain untuk mengembangkan desa Tarumajaya. Jadi, Yangie meminta analisis desa Tarumajaya.
  • Lalu yangie bertanya budaya kajian di HMIF. Memang di hMIF memang bukan budayanya, tapi ini adalah budaya baru yang bisa bermanfaat, jadi untuk kajian-kajian yang dilaksanakan HMIF biasanya tidak terlalu banyak yang datang. Sarannya, ada masukan dari teman yang biasa melakukan kajian, jadi untuk pertama-tama pelaksanaan kajian, usahakan masih bersifat semi-satu-arah, agar peserta kajian mendapatkan banyak informasi bermanfaat, namun jangan terlalu banyak melibatkan peserta dalam debat dan pengemukakan pendapat. Biasanya anak IF kurang suka berpendapat, dan untuk ke depannya, kemungkinan anak yang diminta pendapat tadi jadi malas datang lagi, karena takut dan trauma,.hhe.lebay.
  • Untuk tanggap bencana, kita memang sudah ada sub divisinya, namanya DIKORBANKAN (divisi koordinator bantuan kemasyarakatan), dan ini bagus, pertahankan..
  • Kemudian, yangie minta tips untuk menjadikan anggota PM nyaman dan membuat PM menarik. Nah, untuk ini jawabannya adalah kita membuat Pengmas Band..yoi.

Setelah membahas mengenai program kerja dari HMIF, kemudian Yangie memaparkan rencana program kerjanya. Karena lupa, jadi ditulis seingetnya saja.hhe

  • SKHOLE
  • Desa Mitra
  • ITB untuk sekitar (wah, aku suka banget sama program ini)
  • Ganesha Rescue
  • Lupa lagi

“But I don’t need a telescope to see that there’s a hope, and that makes me feel brave” –Owl City

Restu Arif Priyono at 7/3/2011 1:18 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s